Batang
- Suara riuh huru hara dari kawanan monyet yang merasa hutan tempat tinggalnya
terusik oleh tingkah polah Raja Gambiro Murko yang ingin menguasai hutan dan
samudra. Itulah Drama Tari dan Wayang Gema Rimba Segara dari ratusan anak, di
Ballroom Kawasan Ekonomi Khusus Industropolis Batang, Minggu (25/1/2026) malam.
Persembahan
spesial tersebut untuk menunjukkan kemampuan para siswa yang selama tiga bulan
menempa diri di Sanggar Seni Prastikasmara bentukan Berta Avin Prastika.
Sebanyak 120 siswa dari rentang usia 5 hingga 18 tahun beradu kemampuan dalam
pagelaran seni tari beragam tema, sebagai uji kemampuan setelah digembleng
langsung oleh pelatih.
Pemilik
Sanggar Berta Avin Prastika atau yang akrab disapa Avin ini mengutarakan,
pagelaran ini untuk mengukur sampai sejauh mana kemampuan tari para siswa. Ada
beberapa tari yang ditampilkan, di antaranya Tari Tikus Pithi, Tari Pangpung,
Tari Geol Denok dan Tari Golek.
“Namun
yang paling menarik adalah persembahan Drama Kolaborasi Tari dan Wayang
"Gema Rimba Segara". Tari ini asli karya kami yang menceritakan
kawasan lautan dan hutan lindung yang ingin dikuasai Prabu Gambiro Murko, namun
berkat kerja sama warga hutan akhirnya bisa menumpas raja yang zalim itu,” jelasnya.
Sanggar
yang telah berkarya sejak 2014 itu telah menorehkan prestasi dengan
mempersembahkan pagelaran tari tak hanya di kancah lokal maupun nasional.
Namun, sudah melebarkan sayapnya dengan menunjukkan kiprahnya hingga
mancanegara.
“Paling
jauh kami sudah pentas kolaborasi tari dan wayang yang khusus diundang ke
Italia dan Turki. Harapannya lewat prestasi yang sudah diraih ini memotivasi
anak didik untuk terus berkarya dengan menjaga seni tari tradisional supaya
bisa mengimbangi budaya manca yang masuk ke Indonesia,” tegasnya.
Sementara,
disinggung terkait dipilihnya Kawasan Ekonomi Khusus Industropolis Batang
sebagai tempat anak didiknya unjuk kebolehan, Avin mengungkapkan alasan karena
tempat yang representatif.
“Pagelaran
kali ini kan ada persembahan khusus tari kolaborasi dengan banyak penari, tentu
membutuhkan tempat yang luas dan tertutup, maka kami memilih KEK Batang,” ungkapnya
Ia
menambahkan, dalam pagelaran tersebut, turut dihadiri jajaran Disdikbud dan
Disparpora yang mengapresiasi pagelaran sebagai upaya pelestarian budaya asli
Indonesia.
Dalam
pagelaran tersebut, anggota sanggar, Ayuni bersama Sabila dan Nisa menampilkan
tari Geol Denok yang telah dipelajari sejak September hingga Januari.
Diakuinya, selama tiga bulan telah banyak mendapat ilmu dasar-dasar menari,
dengan ragam gerak yang harus ditarikan bersama tim.
“Pasti
ada kesulitannya, ketika harus menyatukan dan menyelaraskan gerak satu sama
lain, tapi berkat rutin latihan, kami bisa menyamakan semuanya,” ujar dia. (MC
Batang, Jateng/Heri/Jumadi)