Evaluasi APBD Awal 2026, Bupati Batang Minta OPD Percepat Belanja dan Jaga Kualitas
Jumadi 03 Februari 2026
Batang
- Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mengevaluasi realisasi pelaksanaan APBD 2026
dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Operasional Kegiatan (Rakor POK) I Terpadu
di Aula Bupati Batang, Kabupaten Batang, Selasa (3/2/2026).
Ia menekankan
pentingnya percepatan belanja daerah sejak awal tahun disertai kualitas
pekerjaan yang terjaga. Faiz membeberkan capaian realisasi anggaran Organisasi
Perangkat Daerah (OPD) periode 131 Januari 2026.
“Sejumlah OPD mencatat
serapan tertinggi, yakni Dinas Perhubungan sebesar 6,55 persen, Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan 6,04 persen, Sekretariat DPRD (Setwan) 4,52 persen,
Satpol PP 4,06 persen, serta Kecamatan Bandar 3,98 persen,” jelasnya.
Sementara itu, OPD
dengan realisasi terendah antara lain Dinas Sosial 1,32 persen, Sekretariat
Daerah 1,23 persen, DP3AP2KB 1,17 persen, DPUPR 0,9 persen, dan BPKPAD 0,14
persen.
Faiz menegaskan, besar
kecilnya pagu anggaran tidak bisa dijadikan alasan rendahnya realisasi belanja.
Alasan dinas saya anggarannya besar sehingga belanjanya masih sedikit itu bukan
pembenaran. Begitu juga sebaliknya, anggarannya kecil lalu belanjanya tinggi
juga bukan alasan.
Ia juga menekankan,
hingga batas waktu (cut-off) 31 Januari, seluruh OPD harus mulai bergerak
sesuai target triwulan pertama. Pemerintah daerah akan memantau OPD yang
realisasinya sesuai maupun yang tertinggal dari target.
“Pengaturan timeline
pelaksanaan kegiatan menjadi kunci agar belanja pemerintah dapat berputar
merata di masyarakat sepanjang tahun, tidak menumpuk di akhir. Kalau menumpuk
di akhir, selain administrasi kewalahan, ada juga kegiatan yang akhirnya tidak
bisa dicairkan hanya karena persoalan administratif,” terangnya.
Ia juga menyoroti
kebiasaan keterlambatan proses lelang dan perencanaan kegiatan yang baru
dimulai di pertengahan tahun.
“Kenapa lelang baru
bulan Agustus? Kenapa perencanaan baru dibuat bulan Mei? Padahal tahun anggaran
sudah dimulai sejak 1 Januari,” ungkapnya.
Faiz meminta, para
kepala OPD mampu mengelola waktu serta menggerakkan timnya agar percepatan bisa
dilakukan bila jadwal mulai meleset. Selain serapan anggaran, ia juga
menekankan pentingnya kualitas hasil pekerjaan. Ia menolak proyek dilaksanakan
sekadar menggugurkan kewajiban tanpa memperhatikan mutu.
“Jangan yang penting
dilaksanakan. Setelah belanja terealisasi, yang terpenting adalah kualitas
pekerjaan yang benar-benar berkualitas,” tegasnya.
Faiz menyoroti peran
OPD teknis seperti DPUPR, Perkim, Disperindagkop, Dishub, hingga DLH dalam
menentukan spesifikasi (spek) pekerjaan sejak tahap perencanaan. PR terbesar
adalah menentukan spek dan mengunci spek lelang. Kalau spek jelek, harga bisa
mahal tapi kualitas tetap rendah.
Ia juga meminta unit Pengadaan
Barang dan Jasa (PBJ) tidak sekadar menjadi pelengkap administrasi, tetapi ikut
memberi evaluasi teknis agar kualitas barang dan pekerjaan sesuai harapan.
Menurut Faiz, kepala
OPD harus mampu memastikan kualitas terbaik dengan harga yang paling
kompetitif.
“Saya tidak ingin ada
barang dibangun tahun ini, tahun depan sudah rusak. Baru dua bulan sudah rusak,
lalu yang mengingatkan justru masyarakat,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)