
Batang - Suara peluit melengking tajam, membelah kesunyian dan seketika memicu gerakan serempak para penari di atas panggung. Pemandangan ini mungkin terasa ganjil bagi yang baru pertama kali melihatnya sekelompok penari mengenakan kacamata hitam pekat, kaos kaki setinggi lutut, dan topi kupluk berkuncir.
Namun,
di balik tampilan nyentrik ala agen rahasia itu, tersimpan memori kolektif
tentang heroisme rakyat Kabupaten Batang dalam mengelabui penjajah. Inilah Tari
Babalu, sebuah kesenian yang bukan sekadar estetika, melainkan sebuah sandi
perjuangan.
Penyamaran
di Balik Kelincahan Gerak
Tari
Babalu lahir di tengah kecamuk kolonialisme sekitar tahun 1940-an. Secara
etimologi, masyarakat setempat meyakini nama "Babalu" berasal dari
frasa "Aba-aba Dahulu". Hal ini merujuk pada struktur tariannya yang
sangat bergantung pada komando peluit.
Seorang
pengamat sekaligus pemilik Sanggar Merti Desa Tatik Setianingsih menjelaskan,
bahwa gerakan dalam tarian berdurasi tujuh menit ini sebenarnya adalah teknik
bela diri yang disamarkan.
“Tari
Babalu itu isinya penari dengan gerakan-gerakan silat. Peluit itu sebagai
simbol aba-aba. Prit... itu tandanya gerak harus berganti. Ini tanda perjuangan
warga Batang melawan penjajah,” katanya saat ditemui di Sanggar Merti Desa,
Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, Selasa (6/1/2026).
Setiap
bunyi peluit menandakan perubahan strategi. Menurut Tatik, gerakan-gerakannya
melambangkan aksi nyata di medan laga. Misalkan
gerakan pembubukan racun atau gerakan menumpas penjajah.
Identitas
yang Nyentrik dan Berkarakter
Secara
visual, Babalu sering kali disalahpahami sebagai bagian dari Sintren karena
beberapa kemiripan atribut. Namun, Babalu memiliki ruh yang berbeda, ia lebih
maskulin dan gagah layaknya seragam tentara yang sedang menyamar.
“Memang
Batang itu agak bau Sintren, tapi Babalu beda. Topinya ada kuncirnya,
pakaiannya seperti tentara yang sedang menyamar atau berjuang,” jelasnya.
Menariknya,
meski identik dengan kegagahan prajurit, tarian ini secara tradisional
dibawakan oleh perempuan, walaupun kini penari laki-laki pun kerap terlibat.
Bagi Tatik, melestarikan Babalu adalah harga mati. Di sanggarnya, Babalu
menjadi menu wajib bagi para pemula.
“Tari
Babalu itu tarian wajib dihafalkan. Kenapa? Karena gerakannya adalah dasar tari
dan ini adalah identitas Batang. Kalau ada tamu dari luar kota, rata-rata
mintanya disuguhkan Babalu karena beda dan berkarakter,” tegasnya.
Menuju
Pengakuan Nasional
Setelah
sempat "mati suri", Tari Babalu kembali menggeliat pada tahun 1998
dan mencapai puncak popularitasnya di era 2000-an. Kini, nilai sejarah dan
keunikan tersebut sedang diperjuangkan untuk naik kelas menjadi Warisan Budaya
Takbenda (WBTb) Indonesia.
Pemerintah
Kabupaten Batang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) telah
merampungkan berkas pengusulan.
Sementara
itu, Kabid Kebudayaan Disdikbud Batang Camelia Dewi optimis, bahwa Babalu
memiliki posisi kuat karena orisinalitasnya yang tidak ditemukan di daerah
lain.
“Babalu
sudah sangat memenuhi persyaratan itu karena eksis sejak 1940-an. Alasan kedua,
kesenian ini menjadi identitas Kabupaten Batang. Setahu saya, tidak ada
kesenian Babalu di tempat lain,” terangnya.
Seluruh
naskah akademik, dokumentasi foto, hingga video pementasan telah dikirimkan ke
pusat. Jika tak ada aral melintang, pada tahun 2026 mendatang, Tari Babalu akan
menyusul jejak Serabi Kalibeluk, Nyadran Gunung, dan Batik Rifaiyah sebagai
warisan budaya yang diakui secara nasional.
“Langkah ini bukan sekadar mengejar sertifikat, melainkan upaya memastikan agar pekik peluit "Aba-aba Dahulu" tetap terdengar oleh generasi masa depan, mengingatkan mereka bahwa seni pernah menjadi senjata paling mematikan bagi para pejuang di tanah Batang,” ujar dia. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)