Batang Cahaya lampu dari Festival Lighting yang digagas Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) berpadu apik dengan deretan stan yang memadati sepanjang Jalan Veteran hingga Jalan Diponegoro.
Setelah
sempat "tertidur" cukup lama akibat hantaman pandemi, denyut nadi
ekonomi kerakyatan di Kabupaten Batang kini kembali berdetak kencang melalui
perhelatan Batang Nusantara Expo 2025.
Acara
yang berlangsung mulai Sabtu 27 Desember 2025 hingga pergantian tahun nanti
bukan sekadar pameran biasa. Di balik 86 stan yang menjajakan produk unggulan
mulai dari batik khas Batang hingga kerajinan dari Jambiada semangat kolektif
untuk membangkitkan sektor riil.
Bupati
Batang, M. Faiz Kurniawan tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya saat membuka
acara. Baginya, gelaran ini adalah titik balik setelah empat tahun absennya
pameran skala besar di wilayahnya.
“Momentum
malam hari ini kita menyelenggarakan Batang Nusantara Expo sebagai momen
kebangkitan kembali UMKM di Kabupaten Batang khususnya dan Indonesia pada
umumnya. Itulah kenapa kita sebut dengan Batang Nusantara,” katanya usai
meninjau stan di Jalan Veteran Batang, Kabupaten Batang, Sabtu (27/12/2025)
malam.
Target
Bupati Faiz tidak main-main. Ia ingin 102.000 UMKM di Batang tidak hanya
sekadar bertahan hidup, tapi naik kelas. Ia juga membedah bahwa kegagalan
kompetisi seringkali bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan belum
terpenuhinya "lima legal akses": tanah, pendidikan, teknologi, modal,
dan pasar.
“Kami
berharap, yang mikro berubah menjadi kecil, yang kecil berubah menjadi
menengah, dan yang menengah berkembang menjadi korporasi besar,” harapnya.
Asisten
Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Kementrian UKMM Ali Alkatiri memaparkan
data yang menantang. Meski Indonesia memiliki 57 juta UMKM yang menyerap 97%
tenaga kerja, mayoritas masih terjebak di skala informal.
“Tantangan
saat ini, UMKM di Jawa Tengah masih berskala mikro. Belum memiliki legalitas
atau sertifikasi sehingga menjadi sulit untuk masuk ke dalam rantai pasok
modern,” ungkapnya.
Ia
mengingatkan bahwa sinergi antarlembaga sangat krusial agar 40% alokasi
anggaran belanja pemerintah benar-benar jatuh ke tangan pegiat UMKM.
Koperasi
Desa: "Mesin" Baru ala Prabowo
Sekretaris
Menteri Koperasi RI Ahmad Zabadi menjelaskan, bahwa koperasi adalah
"agregator" yang akan menyelamatkan petani dan nelayan dari jeratan
rantai pasok yang mencekik. Ia mencontohkan bagaimana nelayan sering terpaksa
membeli solar mahal karena tak punya akses ke subsidi, atau petani yang menebus
pupuk jauh di atas harga resmi.
“Presiden
kemudian melalui Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih memotong supply chain mata
rantai penyaluran dengan PT Pupuk Indonesia langsung ke koperasi, sehingga
petani bisa menikmati harga sesuai harganya,” jelasnya.
Sementara
itu, Kepala Disperindagkop dan UKM Batang Wahyu Budi Santoso memastikan, expo
ini akan menjadi destinasi lengkap bagi warga. Hingga 1 Januari 2026 nanti,
pengunjung bisa menikmati pameran produk dari pukul 10.00 hingga 22.00 WIB. Tak
hanya belanja, warga juga bisa mengakses layanan publik, perizinan, hingga
business matching.
“Kabupaten
Batang kini sedang menatap angka pertumbuhan ekonomi 8 persen di tahun 2025.
Dengan UMKM yang menyumbang lebih dari 56 persen PDRB, Alun-Alun Batang malam
itu bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan etalase dari sebuah harapan
besar: ekonomi yang mandiri dan berdaulat dari desa untuk Nusantara,” ujar dia.
(MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)